UfukNews. Com, JAKARTA – Kementerian Pertanian terus berupaya mewujudkan cita-cita swasembada daging. Hal ini tidak terlepas dari program peningkatan produktivitas sapi dan pemberian pakan yang optimal. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pengembangan integrasi sapi-jagung di Kecamatan Labangka, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Prof. Dr. Atien menyebutkan bahwa kemandirian pakan sangat penting dalam usaha budi daya maupun penggemukan sapi.
“Salah satu kunci usaha peternakan adalah pakan, sebab sekitar 70 persen biaya untuk pakan. Sehingga integrasi sapi dan jagung perlu dilakukan secara holistis,” ucap Atien dalam Seminar Berkala Pelayanan Informasi Inovasi Teknologi Peternakan dan Veteriner yang digelar secara daring pada Selasa (15/2).
Atien menjelaskan bahwa potensi biomassa dari tanaman jagung dalam negeri, perlu dioptimalkan sebagai pakan ternak. Sementara itu, kotoran dari sapi dapat dimanfaatkan juga sebagai pupuk bagi tanaman jagung.
“Data dari BPS tahun 2020, menunjukkan produksi jagung Indonesia sekitar 55 juta ton per tahun. Kita melihat keragaman dari biomassa yang melimpah ini belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, kita mencoba menerapkan model kawasan integrasi sapi-jagung dalam program berskala ekonomi di Sumbawa,” ungkapnya.
Lanjutnya, integrasi sapi-jagung diimplementasikan oleh Balitbangtan melalui program Riset Pengembangan Inovatif Kolaboratif (RPIK) sejak 2021 lalu. RPIK dilakukan pada lahan seluas 100 hektare dengan konsep pembangunan industri jagung, industri pakan dari hasil samping biomassa pertanian, dan industri pupuk.
“Kita menggunakan varietas jagung Nasa 29 dan JH 29 dengan sistem tanam legowo 2:1. Kita juga menyiapkan chopper, conveyor, bunker, serta melakukan analisis mutu pupuk organik kompos. Ini kita sosialisasikan ke petani dan peternak yang sebelumnya belum memanfaatkan kotoran sapi untuk kompos,” jelasnya.
Dengan integrasi sapi-jagung yang dikelola secara holistis dan melibatkan berbagai stakeholder, industri pakan dan budi daya sapi diharapkan lebih optimal, guna meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan petani dan peternak. Hal ini seperti disuarakan oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam berbagai kesempatan.
“Kita harus memanfaatkan sumber daya alam yang kita miliki untuk pembangunan pertanian yang lebih maju. Gunakan teknologi, lakukan kolaborasi, dan maksimalkan dari hulu hingga ke hilirnya,” tutupnya.







