UfukNews. Com, PONTIANAK — Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Kalimantan mengembangkan kompleks Yuka Kota Pontianak, menjadi kampung yang menerapkan pengelolaan sampah organik menggunakan sistem Lodong Sisa Dapur (Losida).
Inovasi ini akan dikawal selama tiga bulan ke depan. Peluncuran program tersebut ditandai dengan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Edelweis, Sabtu (12/9/2026).
Penduduk dari tiga Rukun Warga (RW) di Kelurahan Sungai Beliung itu cukup antusias menyimak teori dan praktik tentang cara mengoptimalkan pengelolaan sampah rumah tangga melalui pot Losida oleh Forum Komunitas Hijau (FKH).
Bukan hanya mengedukasi, Pusdal LH Kalimantan juga menyalurkan 50 pcs pot Losida kepada warga Kampung Yuka. Dalam pelaksanaan awal, KLH/BPLH ini menggandeng Komunitas Gerakan Pembaharuan (Gaharu) untuk mendampingi 50 Kepala Keluarga (KK) penerima sarana pengelolaan sampah metode Losida selama periode September – November 2026.
“Sistem Losida tradisional atau pipa ditanam di tanah kurang cocok untuk diterapkan di Pontianak yang bergambut dan rawan genangan air karena dapat mencemari air. Sehingga, modifikasi menjadi pot Losida adalah solusi inovatif agar lingkungan tetap terjaga dan kompos tidak basah atau rusak,” kata Kabid Wilayah III Pusdal LH Kalimantan, Buyung Yusuf Wibisono dalam sambutannya di Bimtek.
Program ini merupakan salah satu upaya Pusdal LH Kalimantan yang dinakhodai Fitri Harwati dalam mendorong perubahan kebiasaan dari membuang sampah langsung ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) jadi memilah dan mengolah sampah organik dari sumber. Melalui pendekatan ini, diharapkan beban volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) bisa diminimalisir.
“Sampah organik yang tercampur dan menumpuk berpotensi meningkatkan risiko kebakaran di TPA. Kebakaran dipicu oleh gas metan yang dihasilkan dari pembusukan tumpukan sampah organik. Tahun ini, tercatat ada 22 TPA di Indonesia yang terbakar,” ujar Buyung.
Data SIPSN menunjukkan total timbulan sampah di Kota Pontianak tahun 2025 mencapai sekitar 489 ton per hari. Di sisi lain, kondisi TPA Batu Layang sudah cukup terbebani dengan gunung sampah.
“Pemerintah Kota Pontianak menetapkan target penanganan sampah sebesar 70 persen dan pengurangan sampah sebesar 30 persen. Tapi, harus dipahami bahwa sehebat apa pun program pemerintah dan sebesar apa pun alokasi dana yang diturunkan, hasilnya tidak akan optimal tanpa adanya partisipasi aktif dari masyarakat,” ungkap Kepala DLH Kota Pontianak, Syarif Usmulyono, saat memberikan sambutan sekaligus membuka Bimtek.
DLH Pontianak juga mengapresiasi inovasi pengelolaan sampah menggunakan metode pot Losida di kompleks Yuka yang diinisiasi Pusdal LH Kalimantan. Terobosan ini sejalan dengan prinsip Kurangi–Kumpul–Angkut–Olah untuk mencapai target sampah yang dibuang ke TPA hanya residu.
“Kesadaran kolektif dan partisipasi masyarakat ini diharapkan dapat mengurangi secara terukur total jumlah timbulan sampah. Kami berharap gerakan-gerakan kecil yang dimulai hari ini mampu membawa dampak besar dan fundamental bagi sistem pengolahan sampah di seluruh penjuru Kota Pontianak,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Komunitas Gaharu Hermayani Putra menuturkan, saat ini 41 warga kompleks Yuka sudah konsisten melakukan pilah sampah anorganik (plastik, kardus, dan lain-lain). Sampah bernilai ekonomi hasil pemilahan tersebut telah diintegrasikan dengan bank sampah.
“Pengelolaan sampah organik melalui sistem Losida ini melengkapi pemilahan anorganik yang sudah berjalan. Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih kepada Pusdal LH Kalimantan yang telah menginisiasi program ini,” tutup Hermayani.







