UfukNews. Com, BAUBAU – Tapak Tilas Oputa Yi Koo, adalah salah satu acara mengingat sejarah perjuangan Oputa Yi Koo. Dimana, sejarah perjuangan Sultan Buton ke 20 yakni Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi atau akrab dikenal sebagai Oputa Yi Koo yang saat ini sebagai pahlawan nasional.
Setelah proses panjang dalam pengusulan serta prosedur yang berangsur – angsur dan telah ditetapkan oleh Presiden pada tahun 2019, bahwa Oputa Yi Koo atau
Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Prof. Susanto Zuhdi mengatakan, Tapak Tilas Oputa Yi Koo, sebagai salah satu cara atau media untuk menteladeni, mengenang serta menumbuhkan semangat cinta serta perjuangan Pahlawan Nasional dalam hal ini Oputa Yi Koo atau Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi.
” Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi atau Oputa Yi Koo, menjadi pahlawan nasional atas usulan oleh daerah. Dimana pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, telah berpedoman berdasarkan naskah akademik yang sudah ditulis dan dinilai oleh Tim TP2GB, ” Jelas Prof. Dr. Susanto Zuhdi, saat di wawancara lewat Via WhatsApp, (28/5/2022).
Prof. Dr. Susanto Zuhdi menjelaskan, sebelumnya semua usulan calon pahlawan nasional diseleksi terlebih dahulu. Setelah memenuhi persyaratan atau kriteria yang ada, dari situ diusulkan lagi ke tingkat dewan gelar yang dibentuk oleh presiden.
“Presiden yang menetapkan terpilihnya pahlawan nasional, hal tersebut telah diatur oleh undang – undang dan presiden berhak memberikan gelar pahlawan nasional,” ungkapnya.
Lanjut kata Prof Susanto, Sultan himayatuddin atau Oputa Yi Koo, adalah tokoh yang ia teliti dari tahun 1995 sampai tahun 1999, didalam studi kampus terkait kesultanan Buton.
“Kebetulan saya menemukan tokoh yang digambarkan dalam sejarah melawan VOC, bahwa ada tokoh seperti Sultan Himayatuddin (Oputa Yi Koo) yang berani melawan kompeni belanda, dan tidak seperti sultan – sultan buton sebelumnya, yang melanjutkan saja kontrak perjanjian kepada VOC, ” bebernya.
Kata Prof. Susanto, mengenai nilai kegiatan Tapak Tilas Oputa Yi Koo, Ia sangat mengapresiasi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dan seluruh masyarakat Buton, yang menghargai pahlawan nya dengan digelarnya Tapak Tilas Oputa Yi Koo. Presiden Soekarno pernah mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai dan mengenang jasa pahlawan.
“Menghargai itu tidak sekedar ungkapan tetapi harus dengan kegiatan. Tapak Tilas ini, sebagai bukti penghargaan atas perjuangan para pahlawan. Saat ini, sudah 58 tahun berdiri nya Sulawesi Tenggara sebagai Provinsi, disitu ada sosok seorang pahlawan nasional dan itu menjadi suatu kebanggaan yang tidak ternilai harganya , ” ujarnya.
Prof. Susanto Zuhdi yang juga ahli sejarah dalam bidang sejarah maritim menjelaskan, melalui kegiatan Tapak Tilas Oputa Yi Koo, peserta diharapkan dapat merasakan betapa berat nya perjuangan Oputa Yi Koo dalam melawan penjajah. Itupun peserta, tidak berangkat dari benteng wolio, jika dihitung bergerilya sang pahlawan Oputa Yi Koo sejauh 120 kilo meter.
“Ini bukan soal Jauh dekat jarak tempuh peserta, menjadi sebuah kendala jika naik keatas puncak Gunung Siotapina. Sehingga harus mempunyai stamina yang kuat dan semangat yang tinggi. Masa sih kita hanya begini saja, sudah mengeluh. Tapak Tilas ini, sebenarnya sebagai wadah melatih ketekunan semangat pantang menyerah oputa Yi Koo, dan itu harus di transformasi kan ke diri sendiri,” tegas Prof Susanto.
Dalam bentuk nilai- nilai Tapak Tilas itu sendiri, kata Prof Susanto, peserta tidak seharusnya menghafalkan tetapi harus dirasakan, jadi peserta dapat menstimulasi kan lagi betapa pahit getirnya perjuangan pahlawan kita Oputa Yi Koo.
“Peserta Tapak Tilas Oputa Yi Koo harus punya semangat dan kemauan, jadi sejarah itu menjadi efektif kalau dirasakan,” terangnya.
Pria yang akrab disapa Santo menuturkan, untuk disetiap pos Lomba Oputa Yi Koo itu sendiri, terdapat soal sejarah perjuangan oputa yi koo, hal itu mengandung banyak peristiwa sejarah.
“Seperti ketika kapal VOC dirompak, sebagaimana kontrak dari Sultan Buton sebelumnya kepada VOC, Buton harus membantu VOC karena sudah bersekutu. Ternyata dengan perjanjian itu Sultan himayatuddin tidak membantu VOC, nampaknya dia bersetuju dan dengan perompakan tersebut, ” ulasnya
Kata Susanto, jadi pahlawan harus mengorbankan diri sendiri untuk kemerdekaan, itu sudah dilakukan oleh sultan himayatuddin pada abad ke 18. (Baca Buku ” Mengenang Kepahlawanan La Karambau)
“Saya tentu mengapresiasi sebagai penulis buku dan saya bisa menjelaskan kenapa memang tokoh ini (Oputa Yi Koo) layak menjadi pahlawan nasional, sekarang justru kebanggaan itulah menjadi kebanggaan daerah, ” katanya.
Ia menguraikan, Sosok kepahlawanan Oputa Yi Koo, harus diteladani dan juga dipelajari. Oleh karena itu, generasi muda harus melihat semangat dan perjuangan para pahlawan dalam hal ini Oputa Yi Koo.
“Apa alasan peserta untuk mengikuti lomba, apakah karena hadiah yang diperoleh totalnya besar, tetapi tentu itu tidak sebesar nilai perjuangan oleh pahlawan kita Oputa Yi Koo. Apa artinya satu milyar atau dua milyar, kalau tidak diisi sifat- sifat kita untuk membangun negeri, ” timpal Susanto yang juga ahli sejarah maritim.
Lanjut ia, Setelah peserta mengikuti lomba tersebut, diharapkan peserta dapat mendapat banyak ilmu terkait sejarah Oputa Yi Koo.
“Saat mendaki gunung Siotapina semua sesi lomba dalam Tapak Tilas, Itu semua cara bagaimana mentrasfer nilai perjuangan, itu semua bisa digambarkan dan akan bisa merasakan sendiri saat bergirilya. Peserta harus memikirkan bagaimana susahnya Oputa Yi Koo saat menaiki gunung siotapina, bagaimana makanan disiapkan dan darimana saat diserang musuh, ” tandasnya.
Tambahnya, peserta dan masyarakat Buton harus menghidupkan kembali sejarah masa lampau. Jadi dalam perberjalanan Tapak Tilas, menggambarkan betapa berat perjuangan pahlawan dulu (Oputa Yi Koo) dan dimana seluruh masyarakat terkhusus Masyarakat Buton harus berterima kasih atas perjuangan Oputa Yi Koo atau para pendahulu. Karena dengan perjuangan mereka (Pahlawan) akhirnya masyarakat bisa hidup.dengan aman, tenang, damai serta tentram tanpa ada rongrongan dari kaum penjajah.







