DKP Sultra, Dorong Pengembangan Potensi Perikanan Daerah Menuju Blue Economy

Ufuknews. Com, KENDARI – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), berkomitmen mengembangkan potensi perikanan dan kelautan di daerah menuju Blue Economy (Ekonomi Biru). Blue Economy merupakan  pemanfaatan sumber daya laut yang berwawasan lingkungan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan, dan mata pencaharian sekaligus pelestarian ekosistem laut.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara, La Ode Kardini, SE, M.Si, mengatakan, komitmen mewujudkan Blue Economy ini, dimulai dengan pemetaan program DKP Sultra meliputi perikanan tangkap, budidaya, serta program kelautan dan perikanan strategis lainnya.

Bacaan Lainnya

“Kita mulai dengan sarana dan prasarana alat tangkap. Bantuan kita salurkan khusus bagi masyarakat yang terampak pandemi covid-19,” ujar La Ode Kardini, Jumat (9/12/2022).

La Ode Kardini menjelaskan, penyaluran bantuan ini dilaksanakan, dalam rangka memenuhi kekosongan fasilitas perikanan di 16 Kabupaten/Kota se-Sultra.

“Alat tangkap kita salurkan ke 16 Kabupaten/Kota se-Sultra, minus Kolaka Timur. Karena Kolaka Timur, tidak masuk kawasan pesisir,” ujarnya.

Lanjutnya, dari sisi program budi daya, Dinas Kelautan dan Perikanan Sultra, menyediakan bantuan bibit ikan. Sedangkan dari sisi konservasi, Dinas Kelautan dan Perikanan Sultra  mendorong perluasan konservasi. Salah satunya dengan membuka pintu gerbang konservasi kelautan seluas 5000 hektar, yang dipetakan mulai dari pesisir Moramo hingga Konawe Kepulauan (Konkep).

“Bibit ini seperti ikan Korapu, Nila dan sejenisnya dan disiapkan nelayan. Kita juga genjot pengelolaan lahan konservasi seluas 5000 hektar dari Moramo ke Konkep,” katanya.

Untuk merealisasikan semua program tersebut, kata La Ode Kardini, dibutuhkan pengawasan dari segala aspek. Kemudian evaluasi rutin, terkait implementasi program strategis, mulai dari pengawasan penangkapan ikan yang memenuhi standarisasi ramah lungkungan, mediasi konflik antara penangkap ikan dan masyarakat. Sertta mengadakan riset bersama civitas akademika Universitas Halu Oleo.

“Kita terus mengevaluasi kendala di lapangan, termasuk permasalahan keterbatasan sarana prasarana. Serta menyosialisasikan alat tangkap ramah lingkungan, hingga mediasi konflik antara masyarakat dan penangkap ikan, ini kami sudah lakukan di wilayah Bombana,” bebernya.

Sebelum menutup la Ode Kardini menambahkan, bersama rektor UHO, pihaknya juga telah melakukan pemetaan untuk pelaksanan riset budidaya perikanaan yang sesuai dengan kondisi wilayah di 16 Kabupaten/Kota se-Sultra. Dimana, semua bermuara pada tujuan ekonomi biru atau blue economy.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *