DKP Sultra Stimulus Ekspor, Lewat Program Kelautan dan Perikanan yang Berwawasan Lingkungan

UfukNews. Com, KENDARI – Dinas Kelautan dan Perikanan DKP) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) stimulus ekspor komoditas perikanan melalui program Kelautan dan Perikanan yang berwawasan lingkungan.

Kepala DKP Sultra, La Ode Kardini mengatakan, Provinsi Sultra beridentitas bahari sehingga tak dipungkiri memiliki kekayaan komoditas ikan tangkap skala besar. Potensi ini,  harus segera diakselerasi, sehingga berjalan seiring dengan tujuan blue economy atau ekonomi biru. Blue Economy merupakan  emanfaatan sumber daya laut, yang berwawasan lingkungan. Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan, dan mata pencaharian sekaligus pelestarian ekosistem laut.

Bacaan Lainnya

“Provinsi Sulawesi Tenggara, mencirikan kepulauan dengan potensi komoditas perikanan yang begitu besar. Potensi ini yang harus kita dorong, untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Aplagi,  ekspor komoditas ikan, dapat diwujudkan lewat peran atau kontribusi kepala daerah di 16 Kabupaten/Kota se-Sultra. Dengan cara  mendorong masyarakatnya membudidayakan ikan tangkap ramah lingkungan, “ ulasnya.

Kata La Ode Kardini, Sulawesi Tenggara memiliki potensi besar perikanan tangkap. Sebanyak 591 pulaunya menyimpan potensi keluatan yang sangat besar. Dari aspek budi daya ikan tangkap, tentu sangat strategis. Mengingat 16 kabupaten/kota semua didominasi wilayah pesisir, jika pemerintah komitmen terus mendorong budidaya perikanan, maka menjadi potensi besar ekspor di masa depan.

“ Untuk merealisasikan semua program itu, dibutuhkan pengawasan dari segala aspek, kemudian  evaluasi rutin terkait implementasi program strategis ini, mulai dari pengawasan penangkapan ikan yang memenuhi standarisasi ramah lingkungan, hingga mengadakan riset bersama civitas akademika di Provinsi Sultra, termasuk Universitas Halu Oleo, “ terangnya.

Dilansir dari Website resmi KKP, Kepala Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Baubau, Yuni Irawati menjelaskan, komoditas ekspor kelautan dan perikanan unggulan,  yang melalui metode ekspor langsung ke luar negeri (direct call) adalah komoditas rumput laut, dengan total ekspor sebesar 3.340 ton.

“ Rumput laut menjadi komoditas primadona di perairan Baubau, Sulawesi Tenggara. Sejak bulan  Januari – Agustus 2022, pengiriman direct call komoditas rumput lauut dilakukan sebanyak 235 kali Baubau ke berbagai daerah sebelum diekspor ke negera tujuan.

“Totalnya 3.340 ton,  tentu ini potensial dan akan sangat bagus jika bisa kita ekspor langsung  (direct call) dari Baubau ke negara tujuan,” kata Yuni Irawati.

Yuni mengungkapkan, komoditas rumput laut Baubau yang dikirim ke Tiongkok atau ke negara lain, masih dikirim ke Surabaya atau Makassar terlebih dahulu. Oleh Karena itu, Ia mendorong sinergitas dengan pemerintah daerah serta para pemangku kebijakan agar bisa dilakukan ekspor langsung dari Baubau.

“Kita tentu berharap bisa, karena ini potensinya ada. Tapi tentu harus dengan keterlibatan dan sinergi bersama Pemerintah Daerah,” imbuhnya.

Yuni menambahkan,  dengan ekspor langsung, wilayah Koata Baubau nantinya bisa tercatat sebagai daerah penghasil agar-agar di Indonesia.

“ Dari sisi BKIPM, kami berkomitmen mendukung kegiatan ekspor dari segi penjaminan mutu, agar produk yang dilepas benar-benar berkualitas sekaligus sesuai dengan persyaratan negara penerima.

Kami sebagai petugas quality assurance, siap menyukseskan program ini jika memang bisa dilakukan. Terutama dari sisi meminimalisir penolakan ekspor dari Baubau,” terangnya.

Untuk diketahui, sepanjang tahun 2021 lalu, BKIPM mencatat lalu lintas perikanan non hidup, termasuk di dalamnya rumput laut dari Baubau, mencapai  10.000 ton. Total nilai yang dihasilkan dari kegiatan ini mencapai Rp173 miliar.*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *