UfukNews. Com, KENDARI – Satu lagi makanan khas atau kuliner yang dianjurkan untuk dicari wisatawan di Kabupaten Buton adalah Kasuami. Kuliner ini gampang ditemukan di Pasarwajo utamanya di Kelurahan Kambula-bulana dan Kelurahan Pasarwajo.
Kasuami, Soami atau sangkola, menurut Wikepedia Indonesia atau adalah makanan khas daerah Sulawesi Tenggara (Buton, Muna dan Wakatobi). Kasuami memiliki arti makanan dari ubi kayu yang diolah dengan uap panas.
Orang Buton dan Muna menyebutnya kasuami, sementara orang Wakatobi menyebutnya soami dan segelintir orang lainnya menyebutnya sangkola. Namun, umumnya makanan tersebut memiliki bentuk yang sama, yaitu menyerupai tumpeng dan berwarna putih kekuning-kuningan.
Kabid Promosi Dinas Pariwisata Buton, Zurnia mengatakan Kasuami sudah merupakan makanan pokok di Buton pengganti nasi. Kasoami itu diolah menggunakan tepung ubi kayu, tepung gaplek, atau ubi kayu yang telah difermentasi.
“Kasuami sangat enak kalau di makan dengan ikan bakar,” katanya.
Menurutnya, di Pasarwajo Kasuami di jual seberapa titik. Yang banyak itu di Kelurahan Kambula-bulana, dan Kelurahan Pasarwajo. Letaknya tidak jauh dari Masjid Raya Pasarwajo.
Dari sisi harganya juga terjangkau. Persatuan di bandrol Rp 5 ribu. Dijual dari pagi hingga malam.
Selain, Kasuami, kuliner khas yang dijual disitu juga ada nggule-nggule. Nggule ini juga berbahan ubi kayu atau singkong. Sehingga para pembeli ada pilihan atau menambah kulinernya.
Sementara itu, La Ane salah satu warga Wakatobi mengatakan, Kasoami adalah makan khas di Buton khususnya Wakatobi. Makanan ini merupakan makanan favorit yang biasa dihidangkan dengan ikan bakar.
” Sejak kami masih kecil sampai dewasa, kami menikmati makanan kasoami ini dengan bebagai tambahan baik itu ikan bakar maupun ikan masak. Hanya dengan memakan setengahnya atau satu kasoami, perut sudah terasa penuh (kenyang), ” ringkasnya.
Di Buton Tengah, kuliner ini bernama Kantofi
Kantofi adalah salah satu makanan khas yang berasal dari Buton Tengah. Bentuknya yang kerucut, di daerah lain masyarakat mengenalnya dengan nama kasoami. Jika di perhatiakan sekilas kedua makanan ini memang sangat mirip.
Makanan ini sering menjadi makanan yang kerap disantap warga Kecamatan Mawasangka Kabupaten Buton Tengah. Dalam sejumlah kegiatan seperti acara-acara keluarga, sama seperti Kapusu, Kantofi juga menjadi makanan yang tidak pernah absen, di acara tradisi Kande-Kandea Kabolosi.
Produksi Kantofi juga terbilang tidak mudah, berbahan dasar ubi kayu (Singkong) segar yang di keringkan, lalu di tumbuk kemudian di rendam semalamam dan dikukus menggunakan kerucut yang dibuat dari anyaman daun kelapa.
Bentuknya yang serupa dengan tumpeng makanan khas asal pulau Jawa, Rahma mengatakan masyarakat di Buton Tengah khususnya di seputar tempat tinggalnya di Kecamatan Gu mengkonsumsi kantofi sebagai makanan pokok pengganti nasi.
“Biasa kami konsumsi juga sebagai pengganti nasi, karena enak di makanan dengan ikan segar yang di masak atau di bakar bisa juga di sajikan dengan sayur lebih mantap,” ungkap Rahma pemuda asal desa Tanjung Gadis.
Sebagai makanan khas, pengolahan makananan ini juga terbilang masih sangat tradisional menggunakan cara manual dan tidak menggunakan bahan pengawet sehingga membuat makanan ini dapat bertahan cukup lama untuk di simpan di tempat yang aman. Makanan ini juga menjadi identitas bagi masyarakat Sulawesi Tenggara terkhusus di Kabupaten Buton Tengah.
Masyarakat di Kecamatan Mawasangka biasa mengolah Kantofi ini menjadi makanan dengan beraneka rasa. Diantaranya ada Kantofi Kaito yang enak disajikan dengan kelapa parut, Kantofi Kapute, dan Kantofi Kogola.



