UfukNews. Com, KENDARI – Saat ini, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara, sedang melakukan upaya pengembangan rumput laut dan kepiting. Hal tersebut, seiring dengan program Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dalam hal pengembangan budidaya rumput laut dan kepiting di Sulawesi Tenggara.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara, La Ode Kardini, SE, MSi melalui Kepala Bidang Perikanan Budidaya, Pendapatan Poduksi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan ( PB P2HP) Marjumagus, S.Pi, MM menjelaskan, saat ini Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara sedang mengembangkan potensi komoditas khususnya untuk rumput laut dan kepiting.

“ Ini sesuai dengan pogram pengembangan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, dimana pengembangannya untuk tahun 2024 sampai dengan 2025. DKP Sultra, tetap mengadopsi program yang ada di pusat dan pengembangannya di daerah. Kebetulan program kementrian ini, tentang peningkatan komoditas terkhususnya di budidaya, khususnya peningkatan rumput laut dan kepiting,” terang Marjumagus.
Kata Marjumagus, untuk di di Sultra masih terkendala dengan kekurangan bibit rumput laut karena kondisi wilayah kita di Sultra tidak cocok. Setelah melihat kondisi tersebut, DKP Sultra dan Kementerian KKP Pusat melakukan rapat koordinasi mengenai mencari Solusi untuk memecahkan persoalan tersebut.

“ Setelah itu, Kementerian DKP pusat memberikan respon positif, dalam hal ini dengan membangunkan laborotorium rumput laut yang berada di Kabupaten Wakatobi pada tahun 2023. Sekaligus membuat daerah percontohan rumput laut, dimana rumput laut ini menggunakan batuk kelapa yang dimanfaatkan dari masyarakat sebagai pelampung dan ternyata tahan lama, “ urainya.
Sebenarnya, sambung Marjumagus, untuk komuditi rumput laut di Sulawesi Tenggara, masih sangat kurang. Dimana setiap tahunya, untuk petani rumput laut membutuhkan sebanyak kurang lebih 3.400 ton.
“ Boleh dikata, Sulawesi Tenggara dulunya merupakan basis penghasil rumput laut terbanyak dan terkuat dimasanya. Kita ingin kembali ke masa jaya pada tahun 2019, dimana untuk komuditi rumput laut Sultra adalah penghasil terbanyak dibandingkan dengan daerah lainnya, “ harapnya.

Sedangkan untuk budidaya kepiting, dimana Sultra sudah pernah mengekspor kepiting bakau, dan Sultra pernah jadi produksi dua terbesar di Indonesia untuk kepiting rajungan. Dimana, kepiting ranjungan ini, dari beberapa daerah dan sentralnya di Kabupaten Muna, inilah yang mau di tingkatkan kembali.
“ Ada beberapa hal yang harus dipahami dalam budidaya ataupun hasil panen kepiting ranjungan, dan ini harus dipahami serta masuk dalam kajian. Dalam hasil panen yang wajib dikonsusmsi yakni dilihat dari bobot dan ukurannya yakni bobot kepiting ranjungan diatas 100 gram, dan untuk dibawah timbangan tersebut tidak boleh ditangkap atau dikonsumsi, “ tutupnya.
Untuk diketahui, sebaran rumput laut yang ada di Sulawesi Tenggara adalah sebanyak 310, 503, 71 dan sebarannya sebagai berikut :








