UfukNews. Com, BOGOR – Majelis Pengukuhan Profesor Riset Kementerian Pertanian mengukuhkan tiga peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) menjadi Profesor Risetsebagai Profesor Riset ke-159 dan Profesor Riset ke-630 secara nasional, yang bertempat di Auditorium Sadikin Sumintawikarta, Selasa (25/01/2022) di Auditorium
Tiga Peneliti Utama tersebut yakni
Dr. drh. NLP Indi Dharmayanti, M.Si., Dr. Ir. Atien Priyanti, M.Sc., dan Dr. Muhammad Azrai, SP., MP. Dimana, ketiganya memaparkan orasi sesuai bidang kepakaran masing-masing.
Orasi pertama dipaparkan Prof. NLP Indi Dharmayanti dengan judul Inovasi Teknologi Veteriner berbasis Biologi Molekuler, untuk Mendukung Pengendalian Penyakit Avian Influenza di Indonesia.
Menurutnya, penyakit AI, merupakan penyakit zoonosis yang sampai sekarang masih menimbulkan kerugian ekonomi dan ancaman kesehatan yang serius terhadap hewan dan manusia.
” Meski sejak tahun 2016 Indonesia sudah berhasil mengendalikan wabah AI, namun ancamannya akan tetap ada. Untuk itu perlu kebaruan teknologi veteriner, untuk mengendalikan virus AI yang mudah bermutasi secara sangat dinamis seperti teknologi veteriner berbasis biologi molukler (ITVBM-AI) ,” ungkap Prof. NLP Indi Dharmayanti yang juga merupakan peneliti bidang Kedokteran Hewan dari Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet).
Tambahnya, Teknologi ini untuk keakuratan dalam diagnose dan mengetahui karakter virus yang bersirkulasi, termasuk jenis obat dan vaksin yang digunakan.
“Penerapan ITVBM-AI sebagai upaya preventif yaitu diagnosa dan kebaruan vaksin, yang lebih baik dalam pengendalian penyakit. Dengan demikian perlu dukungan khususnya dari Pemerintah, ” harapnya.
Sebelum menutup, Prof. NLP Indi Dharmayanti kembali menjelaskan, penerapan ITVBM-AI membutuhkan dukungan dari pemerintah baik itu berupa kebijakan, kemudahan pendaftaran izin edar, maupun pemberian insentif bagi industri pengguna ITVBM-AI.
” Karena ini merupakan karya anak bangsa dalam mendukung pengendalian penyakit avian influenza secara tepat, cepat dan akurat serta mampu meminimalisir dampak dari penyakit avian influenza,” tutup wanita yang akrap disapa Indi.
Sementara itu, paraparan kedua Prof Atien Priyanti dengan judul ‘Penerapan Bioekonomi Di Sektor Pertanian Dalam Mewujudkan Kemandirian Pakan. Menurutnya pendekatan Bioekonomi sangat relevan dengan pembangunan pertanian ke depan, dalam upaya untuk mewujudkan kemandirian pakan dan optimalisasi pemanfaatan sumber daya hayati (SDH).
” Secara umum bioekonomi dalam hal ini diartikan sebagai upaya pemanfaatan biomassa yang melimpah sebagai dasar untuk bahan pakan bagi usaha peternakan, ” urainya.
Lanjutnya, pengembangan kawasan peternakan berbasis kemandirian pakan, dilakukan secara sinergis dengan budidaya tanaman unggul, seperti jagung dengan biomassanya sebagai sumber bahan pakan yang sangat potensial.
” Sasaran pengembangan kawasan ini, adalah peningkatan populasi sapi dengan co-benefit produksi jagung serta nilai tambah ekonomi, ” jelasnya.
Sambung Prof Atien Priyanti, pembangunan peternakan dapat berkembang secara berkelanjutan apabila didukung oleh pemanfaatan sumber daya lokal. Pengembangan usaha peternakan berbasis biomassa, diarahkan berbasis kawasan yang terintegrasi secara holistic.
” Kawasan tersebut dapat membuka peluang untuk memperoleh keuntungan, memberikan manfaat sosial, ekonomi dan menjaga kelestarian lingkungan sebagai wujud dalam menerapkan bioekonomi di sektor pertanian. “Kelompok tani-ternak menjadi modal dasar dalam rekayasa model kelembagaan ini,” tutur Prof Atien Priyanti yang juga merupakan peneliti utama bidang ekonomi Pertanian dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak)
Pemaparan orasi terakhir oleh Prof Muhammad Azrai dengan judul ‘Inovasi Varietas Hibrida Nasional Berdaya Saing Mewujudkan Swasembada Jagung Berkelanjutan. Menurutnya, selama ini varietas yang dilepas oleh perusahaan multinasional berfokus pada lahan optimal.
” Selain itu, produksi benih masih terkonsentrasi di Jawa Timur, sehingga menjadi salah satu faktor pembatas pencapaian target produksi jagung nasional, ” katanya.
Sambungnya, salah satu upaya keberlanjutan program swasembada jagung yang dicapai pada tahun 2017, mewujudkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia tahun 2045. Dimana, mengakselerasikan perakitan varietas unggul hibrida (VUH) jagung berdaya hasil tinggi adaptif berbagai agroekosistem yang beragam berikut desentralisasi produksi benihnya.
” Pengembangan varietas dan penyediaan benih dalam negeri, sangat terkait dengan kinerja pemuliaan dan perkembangan industri benih nasional. Perakitan dan Pegembangan varietas jagung hibrida berbasis inovasi dan teknologi modern, teknologinya berimplikasi terhadap percepatan perakitan galur dan pelepasan varietas serta penyediaan benih bermutu untuk peningkatan produktivitas dan perluasan areal tanam, ” terangnya.
Oleh karena itu, Prof Muhammad Azrai, diperlukan dukungan kebijakan yang mendorong penyediaan benih berbasis in-situ. Dimana mitra lisensi Varietas Unggul Hibrida jagung nasional, diharapkan dapat berperan menyediakan benih untuk luasan satu juta ha per tahun untuk mewujudkan swasembada jagung nasional dapat berkelanjutan.
Perlu diketahui, tiga peneliti yang dikukuhkan hari ini secara berurutan merupakan profesor riset ke 631, 632, dan 633 secara nasional dan profesor riset ke 160, 161, dan 162 di Balitbangtan, Kementan. Saat ini Kementerian Pertanian memiliki 58 orang profesor riset aktif dari total 1.581 peneliti.







