DKP Sultra Dorong Pengembangan Perikanan Budidaya, Rumput Laut Dilirik Menkop RI

 

Bacaan Lainnya

 

UfukNews. com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) terus mendorong nelayan untuk pengembangan budidaya perikanan, khususnya komoditas udang dan rumput laut, mengingat budidaya keduanya memiliki potensinya cukup luas di Bumi Anoa.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulawesin Tenggara (Sultra), La Ode Kardini mengatakan, saat ini di wilayah Sulawesi Tenggara terdapat kurang lebih 16 ribu hektare lahan potensial yang bisa dijadikan kawasan tambak. Namun saat ini yang baru tergarap hanya sekitar 25 persennya saja.

“Masih ada tersedia sekitar 2.000 haktare lahan potensial yang bisa dijadikan kawasan tambak udang. Hal ini digaungkan guna mendukung program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk memacu pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat setempat,” kata La Ode Kardini.

Berdasarkan data DKP Sultra bidang Budidaya, pada tahun 2022, Potensi Perikanan budidaya laut mencapai 63287.32 ton, sehingga beberapa komoditas menjadi pantauan untuk dicatatkan sebagai target. Komoditas tersebut, ada pada Rumput Laut, yang targetnya berkisar 299,795.90 ton, Kerapu 280.4, Kekerangan 128, Ikan Laut lainnya seperti:
− Baronang ditargetkan pada angka 0.714 ton
− Lobster 52,398.08 ton
− Teripang 8.127 ton
− Ikan Kuwe 684.81 ton.

Sedangkan Budidaya Payau memiliki potensi 58, 93 ton, meliputi komoditas, Udang Vannamei 44,387.67 ton, Udang Windu 2,985.18 ton dan Bandeng, 50, 905.64 ton.

Dari target tersebut, DKP Sultra berhasil mencatat capaian pada tahun 2022, yakni:
– Rumput Laut, 313,104,166 ton,
– Kerapu, 611 ton,
– Kekerangan, 206,309 ton,
– Baronang, 4,126 ton,
– Lobster, 140,972 ton,
– Teripang, 4,857 ton,
– Ikan Kuwe, 606,095 ton,
– Udang Vannamei, 36,690,672 ton,
– Udang Windu, 1,558.4 ton,
– Bandeng, 51,701,121 ton,
– Ikan air tawar lainnya, 15,643.65 ton.

Kendati demikian, beberapa hal yang menjadi catatan DKP Sultra, terhadap komoditas perikanan budidaya dari merumuskan target hingga capaiannya, yakni:
1. Sesuai capaian tahun sebelumnya
2. Adanya bantuan yang disalurkan pada tahun sebelumnya
3. Produksi yangg tidak mencapai target disebabkan karena adanya serangan penyakit dan penurunan kualitas lingkungan serta menurunnya benih pada ikan kuwe.

Oleh DKP Sultra, komoditas tersebut terus menjadi pantauan untuk selalu ditingkatkan. Apalagi pada beberapa waktu lalu saat kedatangan Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM), Teten Masduki melihat Wakatobi di Sulawesi Tenggara (Sultra) sebagai wilayah dengan potensi sektor kelautan yang sangat besar.

Teten bilang, untuk Budidaya air tawar, yang potensi 26.187 Ton, pada tahun 2022 DKP Sultra menargetkan 8,531.28 Ton, capainnya pada tahun tersebut tercatat diangka 15,643.65 ton.

Tidak sampai disitu, termasuk memiliki komoditas unggulan berupa rumput laut yang bisa menjadi bagian dari program hilirisasi nasional, kata Teten dalam acara pembukaan Expo UMKM pada Wakatobi Wonderful Festival and Expo (Wakatobi WAVE) Tahun 2023, Jumat (3/11/2023), sebagaimana yang dilansir pada rilis laman Kemenkopukm.go.id.

”Negara kita masih mengimpor gandum cukup besar, padahal riset menyebutkan sebesar 30 persen gandum bisa disubstitusi dari olahan rumput laut. Jika potensi ini terus dimaksimalkan, Wakatobi bisa menjadi penghasil rumput laut nomor satu dunia,” kata Teten, di Wakatobi, Sultra.

Wakatobi yang merupakan salah satu kabupaten Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), memiliki potensi yang sangat besar bukan hanya dari sisi pariwisata bawah lautnya, tetapi juga sebagai daerah penghasil rumput laut. Bahkan, Wakatobi menjadi daerah percontohan industri rumput laut terintegrasi.

Pada tahun 2022, produksi rumput laut di Sultra tercatat mencapai sekitar 3.951 ton, namun potensi lahannya sekitar 5.236 hektare (ha), yang tersebar di Pulau Wangi Wangi, Kaledupa dan Tomia.

Secara global, industri rumput laut diperkirakan akan mencatatkan pertumbuhan tahunan 10,5 persen dengan pendapatan menyentuh 48 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 734,4 triliun pada 2030.

Untuk diketahui, Indonesia adalah produsen rumput laut terbesar kedua di dunia yang menghasilkan 27,86 persen dari 35,8 juta ton produksi rumput laut dunia.

Teten bilang, meski begitu, sekitar 65 persen produk rumput laut yang diekspor masih berupa bahan mentah/non olahan. Untuk itu Presiden Jokowi dalam konsep industrialisasinya melibatkan para pelaku koperasi dan UMKM.

“Sehingga yang mengolah nanti, harus koperasi dan UMKM jangan yang besar-besar, supaya kue ekonomi tidak hanya dinikmati konglomerat,” pungkas Teten.

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *